Perjalanan Mistis bersama Suku Kamoro


Waktu itu hujan baru menyapa salah satu kawasan mangrove terbesar dunia di selatan Papua. Bau hujan, sungai, dan lumpur khas ekosistem bakau masih tercium jelas saat saya tiba di Pomako, dua jam perjalanan darat dari Kota Timika. Tujuan perjalanan hari itu adalah Desa Mioko yang didiami masyarakat Suku Kamoro, suku di pedalaman Papua yang sangat terkenal sebagai suku pengukir.

Besok akan ada satu ritual sakral, ritual pengambilan pohon mbitoro untuk dibuat sebagai patung mbitoro raksasa. Patung ini berukuran besar dan paling sakral bagi Suku Kamoro karena dipercaya dapat menyimpan roh para leluhur.

Saya pun tiba setelah enam jam menyusuri sungai. Desa Mioko terlihat sederhana, hanya beberapa rumah panggung berderet sepanjang sungai. Senyum penuh keramahan menyambut dan saya pun dipertemukan dengan kepala kampung, Tobias Natipaku. “Ayo istirahat, tengah malam nanti kita pergi berburu buaya!” sambutnya mengejutkan saya.

Pagi besoknya, obrolan masih tentang berburu buaya semalam. Walau berburu hingga pukul tiga dini hari, hanya seekor buaya yang berhasil tertangkap. Menurut Pak Tobias, sejak lahan sawit di bagian hulu dibuka, jumlah buaya makin berkurang.

Tiba-tiba suara tabuhan tifa dan nyanyian nyaring terdengar di luar rumah. Mereka sudah siap dengan pakaian tradisional mereka. Kepala kampung dan beberapa orang memakai mahkota dari bulu kasuari, sebagian lagi membasuh wajah dan badan mereka dengan lumpur. Belasan sampan bergerak menuju tempat pohon mbitoro. Sangat terasa spirit mereka. Laksana pasukan yang hendak berperang, mereka menari dan bernyanyi membuat gemuruh penuh doa dan mantra.

Setelah memasuki hutan dan berjalan sekitar beberapa ratus meter, akhirnya semua berhenti di hadapan satu pohon besar dengan diameter batang sekitar dua meter. Di bawahnya, ada tirai penghalang yang terbuat dari dedaunan. “Ada jiwa-jiwa pelindung pohon ini dibalik itu”, kata salah satu anggota suku. Ritual ini bertujuan meminta ijin untuk menebang pohon ini. Mereka tidak boleh sembarangan menebang pohon. Mereka percaya ada spirit yang melindungi pohon itu dan orang-orang tertentu saja yang dapat memutuskan pohon mana saja yang boleh ditebang. Untuk menebang pun mereka harus melakukan ritual terlebih dahulu.

Sang kepala suku memberi isyarat untuk mulai. Mantra diucapkan dan tifa ditabu dengan ritme yang berubah-ubah. Mendadak seorang anggota suku, seperti kesurupan sambil terus menari di sekitar pohon. Sementara yang lainnya membuka tirai yang terbuat dari dedaunan, maka tampaklah beberapa orang sedang tertidur bertumpuk di bawah pohon. Mereka adalah simbol kekuatan-kekuatan yang melindungi pohon itu. Mereka lalu bangkit dan menari diiringi ketukan tifa yang makin gemuruh. Hampir semua orang menari saat pohon tersebut mulai ditebang. Tak lama pohon pun tumbang lalu diarak beramai-ramai ke tepi sungai dengan hanya menggunakan rotan sebagai pengikat.

Di sungai telah menunggu beberapa sampan untuk menjemput pohon yang akan diturunkan ke sungai lalu diarak. Semua bersuka cita, semua menari di atas sampan yang saling menyatu mengapit batang pohon mbitoro. Di kampung, ternyata semua anak-anak dan kaum perempuan telah menunggu. Mereka terus menari. Saya dan masyarakat yang tiba di tepi sungai langsung diciumi oleh ibu-ibu sebagai tanda syukur telah berhasil membawa pulang pohon mbitoro dengan selamat.

Aura penuh bahagia sangat terasa. Aura mistis yang terasa bukan hanya pada sakralnya pohon mbitoro. Tapi lebih dari itu, ada spirit yang mengalir dari ritual itu. Spirit tentang kehidupan yang akan terus berlanjut dengan dukungan dan perlindungan alam. Ritual selesai, kini giliran para pengukir bekerja membuat patung mbitoro. Mengagumkan menjadi bagian dari manusia yang menangkap spirit dari alam untuk makin mencintai bumi ini.

Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

© 2020 by arfansabran.id  I   Email: arfansabran@me.com

  • Instagram - White Circle
  • w-facebook
  • Twitter Clean