Covid-19: Siapa yang memulai peperangan?



New normal, sebuah gagasan tatanan kehidupan normal manusia yang baru pasca pandemi Covid-19, kini mulai digaungkan di sana-sini. WHO pun sudah mengingatkan bahwa Covid-19 tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Kita pun diminta untuk berdamai dengan virus ini. Tapi apakah kita memang sedang berperang sehingga harus berdamai? Jika iya, siapa yang memulai peperangan? Mari kita mencoba berandai-andai, jika akhirnya berdamai adalah jalan satu-satunya.


Hidup berdampingan dengan virus dan bakteri mematikan sebenarnya bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Di Indonesia, setiap jam, sebelas orang meninggal karena Tuberculosis (TBC) yang disebabkan oleh bakteri Micobactorium tuberculosis. Begitupun dengan virus Hepatitis, sekitar 2,9 juta penduduk Indonesia tercatat mengidap hepatitis. Demam Berdarah Dengue (DBD) pun begitu, hampir setiap tahun penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue ini mewabah dan merenggut puluhan nyawa. Bahkan kabarnya, di awal tahun 2020, masa yang hampir sama dengan mewabahnya virus Covid-19, lebih dari 250 orang meninggal karena DBD. Demikian halnya dengan malaria, tifus, cacar, dan campak. Entah sadar atau tidak, kita telah berabad-abad lamanya hidup berdampingan dengan mereka. Bagaimana dengan Covid-19? Siapkah kita hidup berdampingan dengan mereka? Tentu tidak mudah mengatakan bahwa hidup berdampingan dengan virus ini adalah jalan yang terbaik.


Tapi sebelum ketakutan itu merebak, mari kita coba kembali menelisik ke tahun 2019, tahun lahirnya Covid-19 ini. Pada tahun 2019, hampir setiap waktu kita disuguhi berita menyedihkan tentang kerusakan lingkungan. Tahun 2019 adalah tahun kebakaran bumi. Hutan di Amazon, Australia, Califronia, Rusia, Indonesia, dan jutaan hektar hutan lainnya di seluruh dunia terbakar. Tahun 2019 pun dikenal sebagai puncak polusi sampah plastik. Menurut data UN Environtment, setiap tahun kita menghasilkan sekitar 300 juta ton sampah plastik di seluruh dunia. Sementara itu, kita pun terus mengotori bumi dengan pencemaran limbah kimia, polusi udara dan segala kerusakan alam lainnya. Bisa dikatakan, tahun 2019 adalah tahun kelam bumi yang disebabkan oleh ulah manusia. Suhu bumi pun terus meningkat, lubang ozon terus melebar, dan pemanasan global akhirnya tak dapat kita kendalikan lagi.


Menghancurkan keseimbangan alam berarti memulai peperangan. Saat hutan menghilang, sumber makanan bagi hewan liar menghilang hingga menganggu pola migrasi mereka. Belum lagi soal polusi. Pencemaran nuklir dan limbah beracun lainnya dapat membunuh mahluk hidup yang ada di wilayah tercemar itu dan sangat berpotensi memicu kerusakan meteri genetik yang ada pada mereka. Suhu bumi pun meningkat. Keseimbangan populasi flora fauna di muka bumi akhirnya terganggu. Mungkin ini terdengar seperti cerita fiksi di film-film. Tapi begitulah kenyataannya. Bagi virus dan bakteri yang memiliki daya mutasi (mutation rate) yang tinggi, kerusakan alam sekecil apapun, dapat menyebabkan mereka bermutasi tak terkendali. Akibatnya, akan mucul jenis virus baru. Bisa jadi, Covid-19 adalah buah dari kerusakan-kerusakan yang telah kita ciptakan. Pandemi adalah hasil dari perang yang kita mulai. Perlu kita sadari bahwa hingga tahun 2019, sebenarnya kita telah lebih dulu merubah wajah bumi. Wajah bumi yang tidak lagi tersenyum. Karena itulah, jika akhirnya kita memilih untuk hidup berdamai dengan mereka, maka seharunya kita sepatutnya mulai mendefinisikan makna new normal sebagai kehidupan yang lebih bersahabat dengan bumi. Sebuah era dimana kita, manusia, seharusnya dapat mengesampingkan ego spesies kita sebagai mahluk super penguasa bumi. Kehidupan normal yang baru seharusnya kembali ke kehidupan yang menganggap diri setara dengan mahluk lain, termasuk virus.


Hidup normal yang baru, bukan hanya sekadar hidup lebih higienis dan mengubah gaya hidup kita dari sebelumnya. Tapi lebih dari itu. Kesadaran dan komitmen untuk hidup yang ramah lingkungan, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, pemanfaatan energi terbarukan, dan bahkan mulai bercocok tanam di rumah adalah satu wujud kenormalan baru yang mungkin selama ini terabaikan.


Begitupun pada tingkat pemangku kebijakan. Sangat disayangkan jika di tengah pandemi kita mendengar banyak pengesahan undang-undang yang malah memungkinkan eksploitasi sumber daya alam Indonesia dengan membabi buta tanpa kendali. Hentikanlah segala kebijakan yang sangat kontradiksi dengan aspek konservasi dan perlindungan sumber daya alam kita.

Kita seharusnya mulai belajar, sejak pandemi kondisi bumi perlahan mulai membaik. Ozon yang tadinya berlubang, kini pulih dan tertutup kembali. Polusi pun mulai berkurang. Bumi yang membaik, pasti akan menyiapkan daya hidup yang lebih baik untuk manusia dan seluruh mahluk di muka bumi ini.


Covid-19 bisa saja tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini dan kita pun dipaksa untuk berdamai. Tapi jika kita tidak mendengarkan “tuntutan” mereka dan terus memulai peperangan, maka tidak ada jaminan bahwa pandemi dari virus-virus yang baru akan kembali bermunculan.


Naskah asli dipublikasi tanggal 11 Juli 2020 di Fajar.co.id

Recent Posts